Yakin Sudah Paham BKSN?! Simak Dulu 7 Hal Ini Yuk!

Bagaimana Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN) yang kita rayakan setiap tahunnya pada bulan September bisa hadir?

Berikut adalah 7 fakta dan catatan yang penting tentang BKSN untuk diketahui dan dibagikan...


Yeayyyy!!! Kita kembali memasuki bulan September ya, Sobat Peziarah! Bulan September selalu dikhususkan oleh Gereja Katolik Indonesia sebagai Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN).

Pada setiap BKSN, biasanya umat didorong oleh Keuskupan dan Paroki masing-masisng untuk menyelenggarakan dan mengikuti pendalaman-pendalaman Kitab Suci dalam kelompok-kelompok lingkungan atau wilayah, atau juga dalam kelompok kategorial masing-masing. 

Selain pendalaman iman, biasanya juga diadakan kegiatan-kegiatan yang bernuansa Kitab Suci, misalnya: Lomba Baca Kitab Suci, Lomba Cerdas-Cermat Kitab Suci, dan sebagainya.

Nah, pertanyaannya, lalu sejak kapan sih tradisi BKSN ini berawal? 

Bagaimana latar belakang ceritanya sampai ada BKSN ini? Dan untuk apa sih sebenarnya Gereja mengadakan BKSN ini? 

Yuk simak dulu 7 fakta dan catatan penting berikut ini...


1. Berawal dari 1956


Bicara soal BKSN, ternyata kita perlu kembali jauh ke tahun 1956, sebelum Konsili Vatikan II dilaksanakan. 

Pada tahun itu, beberapa pastor Fransiskan (OFM) yang mengambil inisiatif untuk menerjemahkan Kitab Suci Perjanjian Lama ke dalam bahasa Indonesia. 

Inisiatif tersebut disetujui oleh Majelis Agung Wali Gereja Indonesia (MAWI), sekarang Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), yang kemudian menyerahkan pekerjaan itu kepada sebuah panitia. Panitia ini akhirnya berhasil menerjemahkan sebanyak 8 jilid.


2. Ditegaskan dalam Konsili Vatikan II


Upaya yang dilakukan sejak 1956 tersebut ternyata mendapatkan penegasan pada Konsili Vatikan II (1962-1965). Salah satu penegasan itu termaktub dalam Konstitusi Dogmatis tentang Wahyu Ilahi "Dei Verbum" (Sabda Allah), khususnya pada artikel 22 yang menyebutkan:

“Bagi kaum beriman Kristiani jalan menuju Kitab Suci 
harus terbuka lebar‐lebar.” 

(Dei Verbum, artikel 22)

Penegasan tersebut diikuti pula dengan anjuran untuk menerjemahkan Kitab Suci ke bahasa‐bahasa lokal secara tepat.


3. Hadirnya Lembaga Biblika


Anjuran Konsili Vatikan II tersebut kemudian menjadi pintu bagi umat beriman untuk semakin akrab dengan Kitab Suci dan mencintainya sebagai sumber iman. 

Dalam konteks Indonesia, anjuran ini pun ditanggapi oleh para misionaris OFM yang mendirikan Lembaga Biblika Saudara‐saudara Dina (LBSSD) dengan Pastor C. Groenen, OFM sebagai ketuanya pada tahun 1965. Lembaga ini menyelenggarakan terbitan‐terbitan tentang pengenalan Kitab Suci kepada umat.

Dalam sidang MAWI pada tahun 1970, para Uskup Indonesia meresmikan dan mengangkat lembaga tersebut menjadi lembaga MAWI yang menangani hal-hal yang berkaitan dengan Kitab Suci (lih. surat Sekretaris Presidium MAWI tanggal 19 Februari 1971). 

Sejak itu, lembaga ini bernama Lembaga Biblika Indonesia.


4. Hadirnya Alkitab Lengkap Ekumenis


Selain dianjurkan untuk membuka pintu selebar-lebarnya bagi umat untuk mengenal Kitab Suci (bdk. Dei Verbum artikel 22), Konsili Vatikan II juga menganjurkan agar diusahakan hadirnya terjemahan Kitab Suci ekumenis, yakni terjemahan bersama oleh Gereja Katolik dan Gereja Protestan.

Mengikuti anjuran Konsili Vatikan II tersebut, Gereja Katolik Indonesia mulai “meninggalkan” terjemahan Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru yang merupakan hasil kerja keras para ahli Katolik, dan memulai kerja sama dengan Lembaga Alkitab Indonesia
Dengan demikian, mulailah pemakaian Kitab Suci terjemahan bersama, yang merupakan terjemahan resmi yang diakui baik oleh Gereja Katolik maupun Gereja-gereja Protestan di Indonesia. Yang membedakan hanyalah Kitab-Kitab Deuterokanonika yang diakui termasuk dalam Kitab Suci oleh Gereja Katolik namun tidak diakui oleh Gereja-Gereja Protestan.


5. Perayaan MKSN


Hah?! Apa tuh MKSN? Kok ada MKSN? Apa ya maksudnya? Bukannya yang ada itu BKSN ya?

MKSN itu ternyata adalah Minggu Kitab Suci Nasional, Sobat Peziarah!

Lho apa hubungannya dengan Bulan Kitab Suci Nasional?
Kok bisa ada MKSN?

Yuk kita lanjutkan dulu...

Hadirnya Alkitab lengkap ekumenis yang menjadi terjemahan bersama oleh Gereja Katolik dan Gereja Protestan tentu patut dirayakan!

Nah, untuk merayakan terbitnya Alkitab Lengkap Ekumenis inilah, Lembaga Biblika Indonesia mengambil prakarsa untuk merayakannya dalam momen Minggu Kitab Suci Nasional (MKSN) yang pertama kali diadakan pada Agustus 1975 dalam rangka menyambut terbitnya Alkitab lengkap ekumenis dengan mengundang seluruh paroki merayakannya dengan Misa Syukur.

MKSN diadakan kembali pada tahun berikutnya, yakni pada 24/25 Juli 1976. Dalam penyelenggaraannya kali ini, MKSN diisi pula dengan undangan pada umat melakukan pendalaman iman berdasarkan tawaran bahan yang diberikan.


6. Hari Minggu Kitab Suci Nasional Ditetapkan Perayaannya Setiap Minggu Pertama Bulan September


Untuk mendorong minat umat Katolik untuk mendalami Kitab Suci, maka para Uskup dalam 
Sidang MAWI --sekarang KWI-- memutuskan untuk menetapkan hari Minggu pertama di bulan September sebagai Minggu Kitab Suci Nasional.


7. Dari MKSN ke BKSN


Ternyata, Minggu Kitab Suci Nasional ini mampu meningkatkan minat umat terhadap Kitab Suci. Umat jadi semakin tertarik untuk mendalami Kitab Suci sampai-sampai rasanya satu Minggu itu nggak cukup. 

Akhirnya, dalam perkembangannya, bulan September kemudian ditetapkan menjadi Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN) sampai sekarang ini.

Meskipun sudah ada BKSN, terutama pada hari Minggu pertama bulan September kita tetap merayakan Perayaan Ekaristi Minggu Kitab Suci Nasional. Perayaan Ekaristi kita rayakan secara lebih meriah dengan adanya perarakan khusus untuk Kitab Suci dan Kitab Suci ditempatkan di tempat yang istimewa.





Nah, demikianlah kisah panjang bagaimana BKSN hadir dalam tradisi Gereja Katolik Indonesia, khususnya pada bulan September, Sobat Peziarah.

BKSN sendiri bertujuan untuk:
  • Untuk mendekatkan dan memperkenalkan umat dengan sabda Allah. KS juga diperuntukkan bagi umat biasa, tidak hanya untuk kelompok tertentu dalam Gereja. Mereka dipersilakan melihatnya dari dekat, mengenalnya lebih akrab sebagai sumber kehidupan iman mereka;
  • Untuk mendorong agar umat memiliki dan menggunakannya. Melihat dan mengagumi saja belum cukup. Umat perlu didorong untuk memilikinya paling sedikit setiap keluarga mempunyai satu kitab suci di rumahnya. Dengan demikian, umat dapat membacanya sendiri untuk memperdalam iman kepercayaannya sendiri.


Lalu, sudah siapkah Sobat Peziarah menjalani BKSN tahun ini?
Yuk sama-sama kita jalani BKSN pada tahun ini yang bertema "Yesus Kristus Sahabat Seperjalanan Kita".

Bahan-bahan BKSN dari Lembaga Biblika Indonesia pada tahun ini dapat di-download melalui link ini ya...

Selamat menjalani BKSN 2021, Sobat Peziarah!


(wlt)

Comments

Popular posts from this blog

Misteri 153 Ikan dalam Penampakan Yesus

Minggu Laetare: Minggu Sukacita di tengah Kekhawatiran

Di Balik Ungkapan "RIP"