Ada Apa Di Balik Pesta St. Yosef, Pekerja Tiap 1 Mei?
Setiap tanggal 1 Mei ingatan kita selalu lekat dengan Hari Buruh. Seruan "May Day" seolah begitu melekat pada tanggal tersebut.
Tapi tahukah Sobat Peziarah, setiap 1 Mei juga diperingati sebagai Pesta St. Yusuf Pekerja?! Inilah perayaan liturgis kedua bagi St. Yosef, Bapa Asuh Tuhan kita, Yesus Kristus...
Mari simak kisah di balik perayaan ini..
Dalam Gereja Katolik tidak banyak orang kudus yang perayaannya diperingati lebih dari 1 (satu) kali. Mayoritas tentu diperingati 1 (satu) kali saja. Selain Bunda Maria, rasanya hanya St. Yohanes Pembaptis dan St. Yosef yang perayaan liturgisnya dirayakan lebih dari 1 (satu) kali. Hal ini tentu memberi pesan bahwa sang orang kudus adalah figur spesial bagi Gereja.
St. Yosef senantiasa dirayakan pertama-tama setiap 19 Maret. Oleh Gereja, setiap 19 Maret ditetapkan sebagai Hari Raya St. Yosef. Selain tanggal tersebut, St. Yosef kembali dipestakan setiap tanggal 1 Mei yang oleh Gereja disebut sebagai Pesta St. Yosef, Pekerja.
Bagaimana 1 Mei menjadi May Day?
Secara luas, setiap 1 Mei selalu diperingati sebagai Hari Buruh yang akrab disebut dengan "May Day". Penetapan ini diawali oleh serangkaian pemogokan di Amerika Serikat pada 1806 yang menuntut pengurangan jam kerja, yang ketika itu masih berdurasi sekitar 19-20 jam setiap harinya. Selain di Amerika Serikat, di berbagai negara pun terdapat beragama unjuk rasa dengan isu yang lebih kurang sama.
Atas hal tersebut, sebenarnya sudah dicoba ditetapkan Hari Pekerja pada 1880-an setiap hari Senin pertama di bulan September. Hanya saja, penetapan ini tidak berpengaruh pada apapun karena inti persoalannya tidak terselesaikan.
Alhasil, bara itu semakin terbakar dan memuncak pada 1 Mei 1886 dimana terjadi demonstrasi besar-besaran di Amerika Serikat yang diikuti sekitar 400.000 orang buruh yang menuntut pengurangan jam kerja menjadi 8 jam sehari. Slogan para demonstran ketika itu adalah, "Delapan jam sehari tanpa pemotongan gaji!"
Meskipun protes tersebut bersifat damai, pada akhir hari itu, sekelompok pekerja menyerang barikade polisi dan membuat polisi pun melepaskan tembakan yang menewaskan dua pekerja.
Selang beberapa hari, peristiwa itu Hal ini mendorong kaum anarkis lokal untuk menggelar unjuk rasa lain pada 4 Mei di tahun yang sama dan mencetak brosur yang bertuliskan, "Pekerja Persenjatai Diri dan Tampil dengan Kekuatan Penuh!" Unjuk rasa dimulai dengan damai, tetapi menjelang penghujung malam, sebuah bom rakitan diluncurkan ke arah seorang petugas polisi. Polisi menembaki kerumunan sebagai balasan dan pada akhir malam tujuh polisi tewas, bersama dengan empat pekerja. Puluhan orang ikut terluka dalam peristiwa yang kemudian dikenal sebagai Tragedi Haymarket atau Pembantaian Haymarket.
Menanggapi Tragedi Haymarket tersebut, pada 1889, dalam kongres pertamanya di Paris, Sosialis Internasional menyerukan demonstrasi internasional untuk memperingati Tragedi Haymarket pada tahun berikutnya, yakni pada 1 Mei 1890. Selanjutnya, setiap 1 Mei dinyatakan secara resmi sebagai pertemuan tahunan pada kongres mereka yang kedua di tahun 1891 dan agenda tahunan bagi semua organisasi Partai Sosial Demokratik dan serikat pekerja di semua negara untuk melakukan demonstrasi untuk menuntut durasi jam kerja 8 jam sehari bagi kelas proletariat, dan bagi perdamaian dunia.
Pada tanggal 1 Mei 1894, terjadi serangkaian kerusuhan hebat di Cleveland, Ohio, yang sekali lagi mendorong Konferensi Sosialis Internasional untuk bekerja secara paksa demi hak-hak pekerja. Sejak saat itu pada tanggal 1 Mei terus digunakan sebagai kendaraan untuk mempromosikan hak-hak pekerja dan dikaitkan dengan gerakan sosialis yang meningkat di seluruh Eropa.
Agenda tahunan itu diperkuat dalam Kongres Sosialis Internasional ke-6 tahun 1904 di Amsterdam yang ditambahkan dengan kewajiban untuk meliburkan pekerja bagi organisasi-organisasi proletarian di semua negara. Dengan demikian, May Day menjadi hari libur terpenting di berbagai negara-negara sosialis dan komunis. Bahkan selama Perang Dingin, May Day dijadikan ajang unjuk kekuatan militer.
Gereja Menanggapi "May Day"
Enam puluh tahun kemudian, di tengah-tengah Perang Dingin, Paus Ven. Pius XII menyadari bahwa ada kecenderungan penggunaan May Day sebagai ajang untuk saling pamer kekuatan militer. Hal itu tentu saja meningkatkan ketegangan di dunia. May Day pun semakin amat bercita rasa sosialis-komunis dalam era Perang Dingin.
Melihat kecenderungan-kecenderungan tersebut dan demi meredakan ketegangan di dunia, serta mewujudkan perdamaian, melalui Paus Ven. Pius XII Gereja pun berupaya bersikap dan berusaha untuk melawan kekerasan dengan mengklaim kembali martabat Kristiani dalam bekerja. Paus Ven. Pius XII kemudian berpidato di depan Asosiasi Kristen Pekerja Italia di Lapangan Santo Petrus pada tanggal 1 Mei 1955, dan mendesak mereka untuk tidak tertipu oleh suara-suara palsu dunia yang mengklaim bahwa Gereja menentang kaum buruh.
"Berapa kali kami telah mengatakan dan menjelaskan kasih Gereja bagi para pekerja!Namun fitnah keji tersebar luas bahwa 'Gereja adalah sekutu kapitalisme melawan para pekerja!'Gereja, ibu dan guru dari semua, selalu sangat peduli terhadap anak-anak yang berada dalam kondisi yang paling sulit, dan juga telah membuat kontribusi yang berharga bagi pencapaian kemajuan jujur yang telah dibuat oleh berbagai kategori pekerja."kutipan pidato Paus Ven. Pius XII di depan Asosiasi Kristen Pekerja Italia di Lapangan Santo Petrus pada tanggal 1 Mei 1955
Untuk membuat pernyataan yang lebih berani terhadap gerakan pekerja yang sedang naik daun, Paus Ven. Pius XII menetapkan perayaan liturgis baru dalam kalender Gereja, mempersembahkan tanggal 1 Mei untuk "St. Yosef, Sang Pekerja."
"[Sebagai] Wakil Kristus, kami ingin menegaskan kembali, pada hari 1 Mei ini… martabat kerja, dan [untuk] menginspirasi kehidupan sosial dan hukum, berdasarkan pembagian hak dan kewajiban yang adil… [Kami telah menentukan untuk] menetapkan pesta liturgi St. Yosef sang Pekerja, menetapkannya tepat pada tanggal 1 Mei… karena pengrajin Nazareth yang rendah hati tidak hanya mewujudkan martabat tangan pekerja… dia juga selalu menjadi pelindung Anda dan Anda keluarga."
Makna Spiritual Pesta St. Yosef, Pekerja
Dengan menjadikannya sebagai perayaan liturgis Gereja Katolik, Paus Ven. Pius XII mengklaim kembali tanggal 1 Mei dan memberinya dimensi Kristiani. Para pekerja Kristen diperlihatkan model untuk diteladani dalam figur St. Yosef dan sebagai pengingat akan martabat mereka. Pesta St. Yosef, Pekerja adalah upaya Gereja untuk memberi makna kristiani akan konsep pekerja dan sekaligus memberikan sebuah model dan pelindung kepada para pekerja. Gereja berusaha menghadirkan cita rasa surgawi dalam memaknai Hari Pekerja tersebut. Kerja dan pekerja memiliki makna Kristiani yang mendalam, tak hanya sekedar materi dan duniawi belaka.
Bersamaan dengan banyak negara dan organisasi yang merayakan Hari Buruh atau Hari Pekerja secara spesial, Pesta St. Yosef, Pekerja setiap 1 Mei, setiap Hari Buruh atau Hari Pekerja, ingin menekankan martabat pekerjaan dan keteladanan Santo Yusuf sebagai pekerja dan untuk menyetakan kembali keikutsertaan Gereja dalam karya penyelamatan Allah.
Pada akhirnya, Gereja selalu mengajarkan bahwa para pekerja hendaknya diberi upah yang adil atas kerja mereka, tetapi memohon para pekerja untuk pergi kepada Joseph alih-alih mencoba dengan keras menggulingkan tatanan sosial untuk mencapai tujuan mereka.
Keteladanan St. Yosef, Pekerja
St. Yosef, Bapa Asuh Yesus, Sang Tukang Kayu adalah seorang pekerja yang mengabdikan dirinya untuk sebuah karya di bengkel kecilnya demi menghidupi Keluarga Kudus Nazaret, Yesus, Bunda Maria, dan dirinya. Kerja menopang penghidupan figur-figur penting dalam Karya Keselamatan Allah.
Dengan demikian, St. Yosef mengajarkan bahwa pekerjaan itu penting dan bernilai. Pekerjaan menjadi sarana mengkontribusikan karya dan pelayanan kepada keluarga dan masyarakat. St. Yosef, sang teladan pekerja yang mengagumkan membantu Gereja dan putra-putrinya untuk menghargai martabat dari "kerja" dan para "pekerja".
Dalam pribadi St. Yosef, pekerjaan tangan memperoleh suatu dimensi ilahi. Kerja meningkatkan harkat dan martabat manusia sebagai ciptaan Allah dan memungkinkan manusia turut serta di dalam karya penciptaan dan penyelamatan Allah. Dengan bekerja, umat manusia memenuhi perintah yang terdapat dalam Kejadian untuk memelihara bumi (lih. Kej 2:15)
Yesus, yang juga adalah seorang tukang kayu pun belajar tentang kerja dari St. Yosef. Setidaknya Yesus belajar tentang perkayuan dan perdagangan, serta menghabiskan masa dewasa awalnya bekerja berdampingan di toko pertukangan St. Yosef sebelum akhirnya memulai karya pelayananNya.
“Roh mengalir kepadamu [St. Yosef] dan kepada semua orang dari hati Allah-manusia, Juruselamat dunia, tetapi yang pasti, tidak ada pekerja yang lebih lengkap dan mendalam ditembus olehNya selain Bapa AsuhNya. Yesus, yang tinggal bersamanya dalam keintiman dan komunitas terdekat dalam kehidupan keluarga dan pekerjaan."(Paus Ven. Pius XII)
Pada tahun 2005, Paus Emeritus Benediktus XVI mencatat:
“Penting untuk menghayati spiritualitas yang membantu orang percaya untuk menguduskan diri melalui pekerjaan mereka, meneladani St. Yosef, yang harus menyediakan dengan tangannya sendiri untuk kebutuhan sehari-hari Keluarga Kudus dan siapa, karenanya, Gereja mengangkat sebagai Pelindung para pekerja."
Kemudian Paus St. Yohanes Paulus II dalam Redemptoris Custos (Penjaga Penebus) menggambarkan pula St. Yosef demikian:
“Jika Keluarga Nazaret adalah teladan dan teladan bagi keluarga manusia, dalam urutan keselamatan dan kekudusan, demikian juga, dengan analogi, adalah pekerjaan Yesus di sisi St. Yosef sebagai tukang kayu. Di zaman kita sekarang, Gereja telah menekankan hal ini dengan melembagakan peringatan liturgi St. Yosef, Pekerja pada tanggal 1 Mei."
Kemudian Paus St. Yohanes Paulus II menambahkan pula,
“Pekerjaan manusia, dan terutama pekerjaan manual, mendapat perhatian khusus dalam Injil… Di meja kerja tempat dia melakukan perdagangannya bersama dengan Yesus, St. Yosef membawa pekerjaan manusia lebih dekat ke Misteri Penebusan.”
Nah, lebih-lebih dalam masa pandemi dan Tahun St. Yosef ini Sobat Peziarah, mari memaknai Pesta St. Yosef, Pekerja hari ini dengan menghargai pekerjaan kita dan rekan-rekan kerja kita.
Mari lihat dengan seksama, karya keselamatan Allah macam apa yang telah kubawa ke dalam pekerjaanku dan rekan-rekan kerjaku?
St. Yosef, Sang Pekerja, doakanlah kami!
(wlt)









Comments
Post a Comment