Ternyata Masa Puasa dan Masa Prapaskah Itu "Beda"! Cek Perhitungannya Yuk!

 Berapa lama Masa Puasa dan Masa Prapaskah? 

Tentu kita akan kompak menjawabnya: 40 hari! Tetapi bagaimana perhitungannya? Samakah periodisasi Masa Prapaskah dan Masa Puasa? 

Mari simak dalam artikel Blog Peziarah Katolik berikut ini... 



Sobat Peziarah sekalian tentu sudah paham bahwa sebagai penanda tobat kita pada Masa Prapaskah, Gereja mengundang kita semua, putra-putrinya untuk berpantang dan berpuasa selama 40 hari lamanya. 

Angka 40 hari tentunya berangkat dari berbagai tradisi suci yang telah ada di Kitab Suci, mulai dari zaman nabi-nabi hingga merujuk pada keteladanan Yesus sendiri. 

Angka 40 hari juga menjadi durasi yang ditetapkan Gereja bagi Masa Prapaskah. 

Akan tetapi, antara Masa Puasa dan Masa Prapaskah ini erat tapi tak sama perhitungan harinya. Jika salah berhitung durasi masa 40 hari itu mungkin akan terhitung lebih dari yang seharusnya. 

Nah, melalui artikel ini, mari kita kenali lebih jauh tentang Masa Prapaskah dan Masa Puasa, termasuk cara perhitungan harinya yang berbeda itu.


Mengapa 40 Hari?

Sebelum beranjak lebih jauh ke cara perhitungan Masa Puasa dan Masa Prapaskah, mari kita segarkan ingatan kita dulu tentang makna mendalam dari "40 hari". Jika melihat dari Kitab Suci, kita akan melihat bahwa angka "40" itu lekat dengan pengalaman-pengalaman rohani yang luar biasa. Tidak hanya pengalaman rohani yang dialami oleh Yesus, tetapi juga pengalaman rohani yang dialami oleh para nabi dan bangsa Israel sendiri. Yuk kita lihat kembali satu per satu, Sobat Peziarah!

Mendengar angka "40" atau frasa "40 hari", maka pikiran kita langsung teringat dengan Yesus yang berpuasa selama 40 hari 40 malam di padang gurun usai menerima baptisan dari Yohanes Pembaptis (lih. Mat 4:2). Sebuah pengalaman rohani yang luar biasa yang dilakukan oleh Yesus sebelum karya pelayananNya dimulai kepada orang banyak. Selama 40 hari dan 40 malam ia berpuasa dan menyepi di padang gurun, bahkan sempat mendapat godaan iblis sebanyak 3 kali pula.

Selain dalam Perjanjian Baru, angka 40 juga muncul di Perjanjian Lama. Beberapa pengalaman rohani itu misalnya ketika Nabi Musa berpuasa selama 40 hari dan 40 malam, tidak makan dan minum, sebelum menerima Sepuluh Perintah Allah di Gunung Sinai (lih. Kel 34:28); atau ketika Nabi Elia berjalan selama 40 hari dan 40 malam menuju Gunung Horeb (lih. 1 Raj 19:8). Angka 40 juga akan mengingatkan kita pula akan perjalanan bangsa Israel selama 40 tahun di padang gurun setelah dibebaskan dari perbudakan Mesir untuk memasuki Tanah Terjanji.

Jadi, apa makna angka 40 ini dalam kaitannya dengan Masa Puasa dan Masa Prapaskah? Seperti tadi sudah sempat diutarakan, angka 40 berkaitan dengan suatu pengalaman rohani yang luar biasa. Gambaran "ziarah" Yesus, Musa, dan Elia yang menjalani masa 40 hari, dan bahkan "ziarah" umat Israel di padang gurun selamam 40 tahun mengilustrasikan sebuah gambaran ziarah rohani yang penting dan mendalam sebelum mendapatkan sebuah penugasan atau anugerah dari Allah sendiri. 

Seperti yang kita tahu, usai Musa berpuasa dengan tidak makan dan minum selama 40 hari 40 malam, ia kemudian mendapatkan tugas dari Allah menurunkan Sepuluh Perintah Allah. Demikian pula dengan Elia, ia mendapatkan amanat penting untuk mengurapi raja Israel dan Elisa sebagai nabi menggantikannya usai berjalan selama 40 hari dan 40 malam. Hal yang serupa dialami pula oleh Yesus. Ia mendapatkan tugas perutusan mewartakan Injil setelah berpuasa dan menyepi di padang gurun selama 40 hari 40 malam. 

Elia berjalan selama 40 hari 40 malam
(https://www.ncregister.com/)

Lalu apa artinya, Sobat Peziarah?

Artinya, masa 40 hari ini memiliki makna yang demikian sakral dan agung sebagai persiapan bagi manusia untuk menggapai sesuatu atau mandapatkan sesuatu yang demikian penting dan mulia dari Allah. Sebelum menunaikan atau menerima anugerah dan amanah yang penting dan mulia itu, diperlukan sebuah ziarah rohani, ziarah batin, sebagai momentum untuk mempersiapkan diri, baik lahir maupun batin. Itulah sebabnya Masa Prapaskah kerap kita kenal pula dengan Retret Agung.

Nah, setelah disegarkan tentang makna mendalam dari angka 40, mari kembali ke 40 hari Masa Puasa dan Masa Prapaskah!


Menghitung 40 Hari Masa Prapaskah


Berangkat dari kesadaran akan dalamnya makna 40 hari sebagai sebuah "ziarah rohani dan ziarah batin" untuk mempersiapkan diri dalam menerima anugerah dan amanah yang penting dan mulia, Gereja kemudian menggunakannya pula dalam Masa Prapaskah. Hal itu tentu saja dilakukan mengingat begitu agungnya Misteri Paskah, sengsara, wafat, dan kebangkitan Yesus. Oleh karena itulah, masa persiapan Paskah dilakukan Gereja selama 40 hari.

Lalu bagaimana menghitung 40 hari Masa Prapaskah dalam Gereja Katolik?

Pertama-tama, mari kita merujuk pada dokumen Gereja, “Perayaan Paskah dan Persiapannya” (PPP) atau dalam Bahasa Latinnya adalah Litterae Circulares de Festis Paschalibus Praeparandis et Celebrandis. Menurut dokumen resmi Gereja yang mengatur tentang Perayaan Paskah dan persiapannya, yang dikeluarkan oleh Kongregasi Ibadat Ilahi Tahta Suci, Masa Prapaskah dilukiskan begitu agung dan mulia, sebagai berikut:

“Masa Prapaskah mempunyai tugas ganda, 
mempersiapkan para katekumen dan kaum beriman 
untuk perayaan misteri Paskah. 
Para calon diantar oleh perayaan pendaftaran, 
oleh perayaan tobat dan pengajaran 
untuk menghayati sakramen-sakramen inisiasi; 
kaum beriman harus lebih rajin 
mendengarkan Sabda Allah dan berdoa 
dan mempersiapkan diri dengan tobat 
atas pembaharuan janji baptis”
(PPP art. 6)

Berkaitan dengan durasi 40 hari Masa Prapaskah dalam Gereja Katolik, dokumen PPP tersebut mengatakan bahwa "Minggu Prapaskah I adalah permulaan Masa Suci terhormat 40 hari..." (lih. PPP art. 23). Artinya perhitungan durasi 40 hari Masa Prapaskah dalam Gereja Katolik dimulai pada Minggu Prapaskah I, bukan pada Rabu Abu. Perhitungan durasi 40 hari Masa Prapaskah dalam Gereja Katolik kemudian berakhir pada Kamis dalam Pekan Suci, yaitu sebelum Perayaan Ekaristi pada sore/malam hari alias Misa Kamis Putih (lih. PPP art. 27). 

Jadi, Masa Prapaskah dalam Gereja Katolik berlangsung sejak Minggu Prapaskah I hingga Kamis dalam Pekan Suci, yaitu sebelum Perayaan Ekaristi pada sore/malam hari alias Misa Kamis Putih. Apakah durasinya pas 40 hari? Mari kita hitung bersama...

(a). Jumlah hari pada Minggu Prapaskah I sampai dengan Minggu Prapaskah V: 7 hari x 5 minggu =  35 hari;

(b). Jumlah hari pada Minggu Palma sampai dengan Kamis dalam Pekan Suci= 5 hari.

Artinya totalnya tepat 40 hari.

Untuk memudahkan, coba simak ilustrasi perhitungannya pada gambar berikut:

Ilustrasi Perhitungan 40 Hari Masa Prapaskah 2021
(oleh Peziarah)


Nah, jika Masa Prapaskah dimulai pada Minggu Prapaskah I, lalu bagaimana dengan Rabu Abu?

Yuk kita masuk ke pembahasan mengenai Masa Puasa dalam Gereja Katolik.


Menghitung 40 Hari Masa Puasa dalam Gereja Katolik



Tentu saja antara Masa Prapaskah dan Masa Puasa tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Keduanya erat berkaitan. Meskipun terdapat periodisasi yang berbeda antara satu sama lain, tetapi boleh dikatakan bahwa Masa Prapaskah ditandai dengan Masa Puasa, dan demikian pula sebaliknya, Masa Puasa menandai berlangsungnya Masa Prapaskah. 

Praktik berpuasa selama 40 hari untuk menyambut Paskah baru ditetapkan dalam Konsili Nikea (325) dan Konsili Laodikia (360). Praktik puasa ini dinamakan "tessarakoste" (Bhs. Yunani) atau "quadragesima" (Bhs. Latin) yang berarti “40 hari” dan menjadi asal kata “Prapaskah”. Selama 40 hari itulah Gereja mengundang putra-putrinya untuk mempersiapkan diri dan mengungkapkan tobat kita. Salah satunya dengan berpuasa. Maka, puasa menjadi sebuah ungkapan tobat yang didorong oleh Gereja untuk dilakukan selama Masa Prapaskah.

Salah satu butir yang bisa menjadi rujukan ini adalah beberapa ketentuan dalam dokumen PPP, seperti:

”Masa Tobat Prapaskah mempunyai ciri tobat"... 
Keutamaan tobat dan pelaksanaan praktisnya merupakan bagian-bagian yang perlu [dalam] persiapan Paskah; 
dari pertobatan hati keluar praksis lahiriah tobat, 
baik bagi orang kristiani perorangan, 
maupun bagi seluruh jemaat; 
praksis tobat ini haruslah sesuai dengan semangat tobat yang dinyatakan Injil dengan jelas, dan dapat dimanfaatkan demi para saudara yang menderita kekurangan. Dalam pada itu harus diingat perlunya kesesuaian dengan situasi dan keadaan kehidupan zaman kita. Peran Gereja dalam peristiwa tobat harus diperhatikan dan doa bagi pendosa ditekankan..."

 (PPP art. 14)


Lalu kapankah Masa Puasa itu dilaksanakan? 
Apakah durasinya juga 40 hari?

Mari kita lihat perlahan-lahan.

Ada beberapa ketentuan dari dokumen PPP yang berkaitan dengan Masa Puasa Gereja Katolik dapat kita lihat bersama, misalnya:


"Rabu Abu harus dijalani sebagai hari tobat dalam seluruh Gereja, dengan pantang dan puasa.." 
(PPP art. 22)

"Puasa Prapaskah pada kedua pertama hari-hari ini adalah puasa suci; Gereja berpuasa, menurut tradisi kuno, “karena mempelainya diambil daripadanya”. 
Pada Jumat Agung puasa dan pantang harus diadakan di mana-mana; juga dianjurkan untuk meneruskannya pada Sabtu Paskah, sehingga Gereja dengan hati gembira dan terbuka mencapai sukacita Kebangkitan Tuhan" 
(PPP art. 39)

"Jumat Agung di seluruh Gereja harus dijalani sebagai hari tobat, dan puasa serta pantang diwajibkan." 
(PPP art. 60)

"Pada hari Sabtu Paskah Gereja tinggal di makam Tuhan, 
merenungkan Penderitaan, Wafat dan turun-Nya ke alam maut dan menantikan Kebangkitan-Nya dengan puasa dan doa.  
Amat dianjurkan, untuk merayakan ibadat bacaan dan ibadat pagi bersama jemaat (bdk. no.40).  
Di mana hal ini tak mungkin, hendaknya diadakan Ibadat Sabda atau kebaktian yang sesuai dengan misteri hari ini." 
(PPP art. 73)

Berdasarkan beberapa ketentuan dalam dokumen PPP tersebut, kita tahu bahwa Masa Puasa itu berlangsung sejak Rabu Abu hingga Sabtu Suci. Panjang sekali ya?! 

Artinya lebih dari 40 hari dong kalau begitu? 

Oh nggak kok! Karena hari Minggu tidak dihitung sebagai Masa Puasa. 

Mari kita hitung bersama... 

(a). Rabu Abu = 1 hari;

(b). Jumlah hari setelah Rabu Abu dan sebelum Minggu Prapaskah I: Kamis, Jumat, dan Sabtu = 3 hari

(c). Jumlah hari pada Masa Prapaskah dikurangi dengan 6 hari Minggu (Minggu Prapaskah I-V dan Minggu Palma): 40 hari - 6 hari = 34 hari;

(d). Jumat Agung dan Sabtu Suci= 2 hari.

Artinya totalnya tepat 40 hari.

Untuk memudahkan, coba simak ilustrasi perhitungannya pada gambar berikut:

Ilustrasi 40 Hari Masa Puasa 2021 (oleh Peziarah)

Nah, demikianlah Sobat Peziarah kita telah mengenal perhitungan Masa Prapaskah dan Masa Puasa dalam Gereja Katolik. Keduanya sangat erat berkaitan tetapi memiliki perhitungan yang berbeda, meskipun keduanya sama-sama memiliki masa 40 hari. 

"...hitungan 40 Hari Prapaskah (Quadragesima) menyertakan hari Minggu, sementara hitungan 40 hari puasa-pantang mengecualikan hari Minggu..." 
(RD. Y. Istimoer Bayu Ajie)



Semoga dengan pemahaman ini kita semakin dapat menghayati kedalaman Masa Prapaskah dan Masa Puasa dalam Gereja Katolik yang akan segera kita masuki... 

Mari, berziarah bersama Gereja semesta dalam Retret Agung Prapaskah ini, karena semua kita adalah peziarah...

(wlt)

Comments

  1. Wow...keren. pemahaman saya untuk arti puasa dan masa prapaskah jd begitu luas....

    Terima kasih banyak
    Bagaimana dapat link peziarah katolik....mohon infonya.

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Misteri 153 Ikan dalam Penampakan Yesus

Minggu Laetare: Minggu Sukacita di tengah Kekhawatiran

Di Balik Ungkapan "RIP"