Mengapa Yesus Berpuasa 40 Hari?

Pencobaan Yesus di Padang Gurun

Yesus, yang penuh dengan Roh Kudus, kembali dari sungai Yordan, lalu dibawa oleh Roh Kudus ke padang gurun.  Di situ, Ia tinggal empat puluh hari lamanya dan dicobai Iblis. Selama di situ Ia tidak makan apa-apa dan sesudah waktu itu Ia lapar. Lalu berkatalah Iblis kepada-Nya: "Jika Engkau Anak Allah, suruhlah batu ini menjadi roti." Jawab Yesus kepadanya: "Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja."

Kemudian ia membawa Yesus ke suatu tempat yang tinggi dan dalam sekejap mata ia memperlihatkan kepada-Nya semua kerajaan dunia. Kata Iblis kepada-Nya: "Segala kuasa itu serta kemuliaannya akan kuberikan kepada-Mu, sebab semuanya itu telah diserahkan kepadaku dan aku memberikannya kepada siapa saja yang kukehendaki. Jadi jikalau Engkau menyembah aku, seluruhnya itu akan menjadi milik-Mu." Tetapi Yesus berkata kepadanya: "Ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!"

Kemudian ia membawa Yesus ke Yerusalem dan menempatkan Dia di bubungan Bait Allah, lalu berkata kepada-Nya: "Jika Engkau Anak Allah, jatuhkanlah diri-Mu dari sini ke bawah, sebab ada tertulis: Mengenai Engkau, Ia akan memerintahkan malaikat-malaikat-Nya untuk melindungi Engkau, dan mereka akan menatang Engkau di atas tangannya, supaya kaki-Mu jangan terantuk kepada batu." Yesus menjawabnya, kata-Nya: "Ada firman: Jangan engkau mencobai Tuhan, Allahmu!" Sesudah Iblis mengakhiri semua pencobaan itu, ia mundur dari pada-Nya dan menunggu waktu yang baik. Dalam kuasa Roh kembalilah Yesus ke Galilea. Dan tersiarlah kabar tentang Dia di seluruh daerah itu. 

(Lukas 4:1-14)

Memaknai Angka “40”

Dalam kitab Ulangan, bangsa Israel sungguh bersyukur kepada Tuhan karena mereka mengalami bahwa Tuhan tidak membiarkan hidup mereka sengsara dan binasa. Dengan tangan yang kuat dan lengan yang teracung, dengan penuh kekuatan dan kedahsyatan yang besar dan tanda mukjizat Tuhan, membawa mereka keluar dari Mesir (bdk. Ul 26:8). Selama 40 tahun terus mengembara, mengikuti hembusan kehendak Tuhan menuju ke tanah terjanji bersama kepemimpinan Musa. Musa di tengah perjalanan, di atas gunung Sinai, naik selama 40 hari. Turun membawa hukum Tuhan.

Ketika bangsa Israel sudah sampai di tanah terjanji dan terbentuk kerajaan-kerajaan, di situ diketahui bagaimana orang Goliath menentang Saul, raja pertama Israel selama 40 hari.

40 hari inilah yang juga dipakai oleh Nabi Elia ketika ia berpuasa. Nabi Yehezkiel menanggung hukuman dari kaum Yehuda, ia harus menanggung derita selama 40 hari.

Ketika rombongan Musa, rombongan Israel harus mengintip ke tanah Kanaan, ternyata dia membutuhkan 40 hari.

Mengingatkan bahwa dulu hujan deras mengguyur di daerah zaman Nuh juga 40 hari  40 malam. Dan barulah pada hari ke-40, Nuh membuka jendela kapalnya.

Tuhan Yesus juga dibawa oleh roh kudus dan berpuasa selama 40 hari. Angka “40” di sini bukan sebuah angka yang dikeramatkan, tetapi sebuah makna bahwa apa yang dilakukan selama 40 hari itu melambangkan suatu ketekunan yang tiada batas. Angka “40” adalah angka yang sempurna dalam tradisi Israel. Dimana mereka menganggap bahwa orang yang dipukuli 40 kali kurang 1, itu artinya sudah habis-habisan hampir mati. 

Maka kalau orang mengembara 40 hari, itu sudah menyentuh ke titik keputusasaan. Itulah artinya atau apa yang dimaksudkan dengan 40 hari, 40 tahun. Demikian juga ketika Roh Kudus membawa Yesus ke padang gurun selama 40 hari. Itu bukan ada kalender setiap hari, karena tidak ada yang menghitung di momen tersebut.

Tetapi, bagaimana kita mengetahui Yesus 40 hari di padang gurun? Karena semua Injil: Matius, Markus, Lukas menuliskan tentang 40 hari ini. Mereka semua mengatakan bahwa Yesus memasuki padang gurun kehidupan itu hampir tiada batas, selalu berada di dalam padang gurun. 

Biar Roh Kudus Membimbing Kita di Padang Gurun

Kekeringan rohani selalu dialami oleh orang yang justru mengikuti Yesus. Orang yang mau dibimbing dan terbuka kepada Roh Kudus, niscaya pasti dibimbing masuk ke dalam padang gurun. Orang yang mau mengikuti kehendak baik, mengikuti kehendak Tuhan, terus mencoba berdoa secara tekun, disitulah kekeringan rohani justru akan dihadapi secara lebih jelas. 

Karena apabila kita tidak membiarkan Roh Kudus hadir di dalam hidup, maka kita akan hidup nyaman saja. Sehingga tidak terganggu hati kita, tidak berpikir masalah dosa, salah ataupun benar. Dengan kata lain, kita sudah menjadi temannya setan. 

Tetapi begitu kita mengundang Roh Kudus untuk membimbing hati kita, mulai terasa panas teriknya perjalanan di gurun pasir tersebut. Apabila kita sungguh membuka diri kepada Roh Kudus, jangan heran roh jahat justru semakin mengintip lebih dekat.

Ketiga Injil membahas hal yang sama. “40 hari” itu artinya adalah terus menerus, tiada hentinya. Kita dekat dengan Tuhan, maka tiada hentinya iblis terus menggoda kita. Godaan itu seperti singa yang terus mencari mangsa, kata Santo Petrus. 

Memaknai Masa Prapaskah

Hidup orang yang percaya kepada-Nya adalah konsep hidup manusia yang harus siap untuk memasuki padang gurun. Padang gurun selalu dihadapi oleh orang-orang yang dekat dengan Tuhan. Setiap kita yang ingin menjadi baik, godaan jahat juga dekat. Dan di masa Prapaskah ini, godaan menjadi lebih berat. Ketika masuk puasa, justru rasanya ingin minum ataupun makan, atau rasanya emosi semakin tinggi dan godaan semakin banyak. Kita diajak untuk merefleksikan dan mampu menahan godaan, tidak hanya membuktikan diri melalui ucapan, tetapi juga hati yang diwujudkan melalui perbuatan.

Maka, sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Paulus kepada jemaat di Roma, "Melalui hati kita menjadi dipercaya dan dibenarkan" (Roma 10:10). Menjadi orang benar bukan masalah omongan semata, tetapi masalah hati. 

Jika ingin melihat apa yang benar, bukan pada perkataan atau tulisannya, bukan pada profil tampak luarnya, tetapi pada hatinya. Percaya bukan pada perkataan, tetapi pada hati. Walaupun perkataan juga menggambarkan siapa identitas kita di tengah masyarakat.

Prapaskah bukan pertama-tama prestasi karena mampu ataupun telah berpuasa. Kita berpuasa pertama-tama karena kerelaan untuk meneliti dan mengenali diri secara lebih detil siapa kita, ketika kita sedang memasuki padang gurun puasa. Kita menyadari apa yang membuat kita mudah masuk ke dalam dosa dan memahami apa yang sebenarnya dan sesungguhnya menjadi bagian di dalam diri kita. 

Dengan bimbingan Roh Kudus dan kemauan kita untuk dibimbing mengikuti Kristus, maka kita akan memegang kebenaran. Ketika kita telah memegang kebenaran, kita tidak terlalu cemas dengan apa perkataan orang, karena kita tahu bahwa kata-kata itu tidak benar menggambarkan siapa diri kita. Dengan benteng yang kuat di dalam hati kita, maka kita tidak mudah tersulut emosi karena omongan orang lain. Apa yang kita lakukan, bukan karena perkataan orang, tetapi mengabdi kepada kebenaran di dalam Allah. 

Maka selama masa Prapaskah, kita mendengarkan banyak godaan, namun bagaimana kita bersedia tinggal di padang gurun dan mempersilakan Roh Kudus hadir membimbing kita melewatinya. Inti di dalam godaan di padang gurun yang perlu kita hadapi dan menangkan adalah tiga godaan besar. Pertama, terkait dengan perut. Kedua, terkait dengan kekuasaan. Ketiga adalah terkait dengan mukjizat yang ingin kita peroleh yang justru tanpa sadar membuat kita sedang digoda untuk mencobai Tuhan.

Semoga selama Prapaskah ini, kita bisa semakin merendahkan diri terhadap Tuhan dan rendah hati kepada sesama. Serta kita bisa mengenal diri kita sendiri lebih dalam dan kemana hidup kita semestinya, sehingga pada akhirnya kita bisa mengenal siapa Tuhan bagi kita.




Sumber: 
"Kenapa Yesus Berpuasa 40 Hari?" oleh RD. Agustinus Tri Budi Utama (Romo Didik) dalam Youtube Ayom Rahwana (verbatim oleh @williamcahyawan dan editor oleh @willemturpijn) 

Comments

Popular posts from this blog

Misteri 153 Ikan dalam Penampakan Yesus

Minggu Laetare: Minggu Sukacita di tengah Kekhawatiran

Di Balik Ungkapan "RIP"