Corona Virus dalam Kacamata Iman Katolik
Virus Corona dan Refleksi Kembali Relasi Manusia dan Alam Ciptaan
Virus Corona yang sedang mewabah rupanya masih satu famili atau satu genus dengan Virus SARS yang pada 2012 sempat merebak. Kedua virus ini sama-sama menyerang paru-paru. Dari literatur yang dibaca, Virus Corona ini pertama kali ditemukan di pasar hewan dan pasar ikan di Wuhan, salah satu kota di Republik Rakyat Cina, yang sekarang tengah diisolasi dengan harapan agar tidak menyebar ke tempat lain virus ini.
Terkait penemuan virus ini di pasar ikan dan pasar hewan. Apa yang dapat kita petik hikmahnya? Patut diduga ini ada hubungannya dengan perilaku manusia terhadap hewan yang dijual belikan disana untuk menjadi bahan konsumsi karena pasar ini bukan pasar untuk hewan piaraan, melainkan pasar hewan konsumsi.
Kalau kita melihat ke dalam Kitab Suci, perwahyu-an Allah pertama kali terungkap melalui ciptaan. Jadi, alam sudah ada sebelum manusia! Maka, yang lebih tua adalah alam. Bahkan, dikatakan bahwa manusia itu bagian dari alam. Ia hanya bagian. Maka, dalam Kisah Penciptaan, manusia itu diciptakan pada hari yang sama dengan diciptakannya hewan. Lihat, maka kita bagian dari ciptaan. Kita bagian dari alam semesta ini. Kita bukan tuan, kita bukan pemilik. Bukan. Kita itu pertama-tama bagian dari ciptaan.
Maka, kalau kita itu bagian dari ciptaan, seperti kita itu bagian dari rumah kita, perilaku kita sudah seharusnya menghormati pula alam. Pertama, mereka sudah ada lebih dahulu. Yang kedua, kita memang bagian dari ciptaan, tetapi ingat, Allah memberikan kita kuasa atas ciptaan itu. Tetapi kuasa itu bukan berarti kita memperlakukan alam sekehendak hati kita. Ingat, kita berkuasa atas alam secitra dengan Allah! Berarti kita memperlakukan alam, seperti Allah memperlakukan alam.
Lalu, apakah ini hukuman karena manusia memperlakukan alam seenaknya? Bukan, fenomena ini bukan hukuman. Ini bagian dari Hukum Alam. Jadi, bukan Hukum Allah, tetapi Hukum Alam. Ketika hewan tidak diperlakukan secara hewani. Ketika manusia serakah dan rakus untuk menyantap segalanya dan lupa untuk menghormati hewan yang akan dimakan. Bahkan hewan yang hendak dimakan pun mestinya diperlakukan secara istimewa juga. Bisa jadi Virus Corona ini lahir karena kita tidak menghargai hal-hal tersebut.
Menyoal Kuasa Manusia atas Ciptaan
Mari sedikit mendalami tentang peran manusia atas ciptaan. Manusia diciptakan bukan untuk menjadi tuan atas ciptaan, melainkan untuk menjadi mitra dalam menjaga keutuhan ciptaan. Lalu bagaimana hal ini dilihat dari konteks Kitab Kejadian 1:28 yang berbunyi:
“Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: "Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.”
Apa makna kata “taklukkan”, “berkuasalah” dalam ayat tersebut?
Salahkah manusia untuk menguasai bumi dan mengeksploitasinya?
Perlu disadari bahwa ayat ini memang menjadi landasan teologis bagi Budaya Barat ketika mereka mau mengeksploitasi alam. Ayat tersebut menjadi penguat ketika manusia ingin “menaklukkan” alam. Dan, oleh karenanya sah jika bumi akan dikeruk dan diambil isinya, entah emas, entah minyak. Semuanya sudah sesuai dengan Sabda Tuhan.
Tapi, ingat, perintah untuk “menaklukkan” alam musti dikaitkan dengan siapakah sesungguhnya manusia. Manusia diciptakan secitra dengan Allah. Maka, jika manusia diberi perintah untuk “menaklukkan” alam, maka ia pun wajib “menaklukkan” alam sesuai dengan Citra Allahnya. Artinya? Tentu tidak boleh berlawanan dengan Firman Allah dan ada penghargaan terhadap alam. Inilah yang kerap dilupakan kebanyakan orang ketika membaca perikop tersebut.
“Taklukkan alam” disini bermakna menaklukkan, mengendalikan, menguasai sesuai dengan hakikat manusia sebagai Citra Allah. Artinya, “penguasaan” terhadap alam itu dilaksanakan dalam relasi manusia dengan Allah dan dengan alam.
Pendek kata, penaklukkan alam yang bertanggung jawab. Itulah tugas manusia. Bukan keinginan manusia. Jadi, penaklukkannya ini adalah karena Allah memberi tugas, bukan karena kita ingin menguasai alam dengan dorongan kita sendiri. Maka, tentu ada batas-batasnya.
Bisa jadi, Virus Corona muncul karena kita, manusia, “berlaku seperti Allah”. Terkait hal ini, mari kita cermati seruan Paus Fransiskus dalam Laudato Siberikut ini,
“Kita bukan Allah. Bumi sudah ada sebelum kita dan telah diberikan kepada kita….. Setiap komunitas dapat mengambil apa yang mereka butuhkan dari harta bumi untuk bertahan hidup, tetapi juga memiliki kewajiban untuk melindungi bumi dan menjamin keberlangsungan kesuburannya untuk generasi-generasi mendatang.” (Laudato Si, 67)
Menyoroti Perilaku Makan Kita: Dimensi Spiritualitas dan Sosialnya
Fenomena berjangkitnya Virus Corona ini tentu mengundang kita untuk tidak hanya fokus pada membatasi perilaku makan kita, tetapi lebih dari itu, melihat makanan bukan hanya sebagai “pengisi perut”. Kita perlu membangun kesadaran pribadi kita agar ketika menyantap sesuatu itu serta merta menyadari bahwa yang disantap merupakan bagian dari alam. Ketika makan beras, kita ingat bahwa beras adalah bagian dari alam, dan oleh karenanya ketika memakan beras kita merasakan persatuan kita dengan alam, karena beras adalah pemberian dari alam semesta yang memberi aku beras, dan beras adalah bagian dari alam. Itulah sebabnya mengapa penduduk-penduduk tradisional ketika menanam beras banyak melakukan upacara, pun ketika panen, dan bahkan, ketika makan pertama dari hasil panen pertama. Upacara demi upacara itu hendak mengingatkan bahwa makan beras bukan hanya sekedar mengisi perut, tetapi menandakan persatuan mereka dengan alam semesta. Jika kita tidak memahami ini, kita tidak memahami Ekaristi, karena Yesus menjadi roti, menjadi makanan.
Fenomena merebaknya Virus Corona bukanlah medium bagi kita untuk menjustifikasi penduduk Wuhan, dan penduduk China yang pola makannya “ekstrim”. Tetapi lebih dari itu, situasi dan kondisi ini justru menjadi medium sekaligus momentum bagi kita agar dalam upaya kita, hidup kita, pola makan kita, kita dapat bersatu dengan alam. Kita perlu menyadari bahwa makan pun punya dimensi spiritual, bukan hanya dimensi biologis.
Mari kita ingat kembali pula dengan Yesus yang berpuasa selama 40 hari 40 malam. Peristiwa itu pun hendak mengingatkan bagi kita bahwa hidup kita tergantung dari Allah. Hal itu hendak mengingatkan pula bahwa setiap makanan yang kita santap itu datangnya dari alam yang merupakan ciptaan Allah.
Oleh karena itu sebagai orang Kristen, makanan tidak boleh hanya “makanan”, karena Allah sendiri menjadi makanan. “Makanlah Daging-Ku dan minumlah Darah-Ku, karena Daging-Ku sungguh-sungguh makanan dan Darah-Ku sungguh-sungguh minuman…” Lihat, betapa Allah sendiri menjadi makanan. Maka, makanan selalu punya nilai suci, punya nilai kudus. Ia bukan hanya produk, bukan hanya komoditi, bukan hanya untuk menghilangkan lapar. Bukan! Tapi dia membuat kita bersatu dengan alam dan dari situ bersatu dengan Allah.
Dengan cara itulah sebetulnya manusia memenuhi hakikat panggilannya sebagai pemelihara keutuhan ciptaan. Titik temu antara dimensi spiritualitas dan juga dimensi sosialnya.
Bukan Permulaan dari Apocalypse
Tidak tepat pula kehebohan Virus Corona ini dipandang sebagai permulaan dari apocalypse, dari kiamat. Tentu saja dalam pandangan iman Katolik, tidak ada yang mengetahui kapan kiamat akan terjadi selain Tuhan sendiri. Tetapi mari kita lihat dengan jernih fakta dan sejarah masa lalu yang mungkin bisa menjadi pembanding dengan situasi yang kita hadapi sekarang ini.
Harus diakui bahwa Virus Corona yang tengah berjangkit ini memang tingkat mortalitasnya cukup tinggi. Akan tetapi, tingkat mortalitas akibat Virus Corona ini rupanya sama dengan tingkat mortalitas dari Virus Influenza ketika pertama kali virus itu merebak. Tapi ingat, dunia sekarang sudah lebih siap untuk menghadapi itu. Apalagi karena dunia sudah belajar dari merebaknya Virus SARS yang sudah lebih dahulu berjangkit. Dunia sudah lebih cepat merespon dengan ragam antisipasi dan gerakannya.
Maka, sekali lagi, kita tidak perlu panik, tidak perlu berlebihan. Kepanikan justru akan memudahkan kita untuk dibohongi dengan berbagai kepentingan, baik politik, ekonomi, maupun kepentingan-kepentingan lainnya. Jangan sampai dengan virus ini kita malah dipecah belah, kita menyalahkan kelompok manusia tertentu, kelompok suku tertentu, atau kelompok ras tertentu. Pun tidak tepat pula rasanya menyamakan situasi ini sebagai pembalasan atau hukuman oleh Tuhan atas spekulasi tindakan China bagi kelompok agama tertentu. Bisa jadi memang ada upaya untuk mendiskreditkan negara dan bangsa China dengan peristiwa ini. Oleh karena itu mari kita dengan jernih memandang persoalan ini dan tidak terpancing isu-isu yang mendiskreditkan atau memecah belah.
Menjalankan Tugas sebagai Pemelihara Keutuhan Ciptaan
Krisis ekologi terjadi; bukan di meja para teolog atau sosiolog, melainkan dalam hidup nyata para petani yang menderita karena iklim ekstrem yang terjadi dan dalam hidup para pekerja migran di perkampungan yang miskin dan kotor bersama jutaan penghuni lain. Di mana Allah ketika situasi itu terjadi? Allah menjadi yang pertama berbagi, bahkan secara sistematis. Dalam Yesus Kristus, Allah Yang Penuh Belas Kasih itu berkenan merendahkan diri dan mengambil hidup sebagai manusia. Dalam berbagai upaya, Allah memulihkan semua kerusakan yang terjadi, mengembalikannya sebagai ciptaan, serta memperbarui keadaan lingkungan. Kacamata iman Kristen tidak menetapkan nilai kemanusiaan dengan banyaknya barang yang dikonsumsi atau diproduksi, dan dengan demikian dapat menumbuhkan sikap moderat, adil, dan bertanggung jawab dalam penggunaannya. Gereja, lebih dari itu, adalah “pemain global” paling tua. Gereja mampu bertanggung jawab dalam kancah dunia. Hanya tanggung jawab yang bisa mengurangi krisis ekologi sekarang ini. (DOCAT nomor 268)
Dari kutipan DOCAT itu dapat kita lihat lagi-lagi tanggung jawab mengemuka sebagai inti dari persoalan sekaligus jawaban atas persoalan yang kita hadapi. Tanggung jawab dapat kita bahasakan sebagai “PR” (Pekerjaan Rumah) atau dapat dibahasakan pula sebagai relasi antara Pemimpin dengan Rakyat, atau Punishment dan Reward. PR itu adalah tanggung jawab yang harus dilaksanakan. Permasalahannya kita kerap mengganti “PR” dengan “Rp” atau “Rupiah”. Kita melupakan tanggung jawab karena kita menginginkan uang, menginginkan keuntungan dan materi berlipat ganda. Di sinilah pangkal persoalan kita, yakni ketika PR yang adalah tanggung jawab dan misi kita dengan sengaja kita ubah menjadi “Rp” sehingga kemudian menghadirkan berbagai masalah, entah perang, kerusakan ekologis, dan lain sebagainya.
Dalam kesempatan “Krisis Ekologi” ini baik jika kita melihat bagaimana Allah sebenarnya “menggerakkan” kita sebagai “duta-Nya” yang wajib menjalankan tugas untuk menjadi “Pemelihara Keutuhan Ciptaan”.
Sumber:
Podcast Peziarah ft. YOUCAT Indonesia (verbatim oleh @willemturpijn dan editor oleh @williamcahyawan)
Sumber:
Podcast Peziarah ft. YOUCAT Indonesia (verbatim oleh @willemturpijn dan editor oleh @williamcahyawan)



Laudato Si'
ReplyDeleteTerpujilah Engkau, ya Allah, Raja Semesta Alam,
sebab dari kemurahan-Mu kami menerima alam ciptaan ini
untuk kami pelihara demi kemuliaan nama-Mu.
Terpujilah Allah selama-lamanya.
Amin.